Selasa, 05 April 2022

Maaf

 Hey hari ini cerah ya, kemaren sore sih hujan. Tadi pagi embun banyak menyapa dedaunan dan mataharipun tak malu-malu untuk bersinar. Hari ini nggak ada yang beda sih, aku tetap mandi pagi gosok gigi lalu berangkat kerja hingga sore hari, sangat membosankan bukan ? tapi hari ini ada sedikit berbeda dari hari biasanya. hari biasanya semembosankan apapun pekerjaan ada dia yang memberi kabar, menanyakan kabar, bertanya sudah makan dan lagi apa, itu hal yang klise tapi membuat imun semangat bertambah mendobrak seolah terbang dan melayang tak karuan. Tapi hari ini tak ada lagi kabar darinya, ini bukan separuh lagi yang hilang tapi semuanya menghilang seolah aku sendiri ditengah lautan tanpa tepi dan tanpa makanan yang dimana jika lama kelamaan aku akan mati kelaparan.

dia meminta pergi bukan hanya sekali tapi tetap saja aku yang paksakan untuk bertahan, entah hati ini sekeras baja atau sekeras tameng kapten amerika , aku tidak tau juga. Mungkin ia bosan dengan segala permintaan maaf ku yang lagi-lagi selalu aku ulang,

"hey" kataku sembari menatap wajahnya yang begitu indah aku pandang, "maaf" kataku lagi sembari mengingat kesalahan-kesalahan, "Mohon jangan pergi" kataku lagi sembari memohon untuk bertahan. Dan ia mengatakan "Tidak aku tidak bisa". Seketika terasa perang dunia ketiga dengan ribuan rudal nuklir menghujam tepat dipusat perasaan, hancur berantakan tidak ada yag tersisa kecuali hanya reruntuhan kekesalan. Aku terus mengatakan ingatkah hari kemaren saat kita tertawa bersama, saat ku genggam tanganmu dan kamu sembari tersenyum melihatku mengelus rambutku lalu mengatakan "aku takkan pernah pergi darimu" betapa indahnya saat itu, "lihat" kataku sembari menunjukan foto-foto saat kita tertawa bersama, "lihat" kataku lagi sembari menceritakan kekonyolan kita, tapi dia hanya acuh seolah tak peduli dengan perkataanku.

"lalu janji mana yang harus aku pegang jika kau selalu melanggarnya dan lalu maaf mana yang harus aku maafkan jika kesalahan sama yang terus kau ulang" kata dia sembari menaikan nada bicara seolah ia benar-benar kecewa dengan kepercayaannya.

aku hanya bisa mengatakan "maaf" dan dia selalu mengatakan "aku tidak bisa"












Tidak ada komentar:

Posting Komentar